Provinsi Maluku Sudah Memiliki Kajian Risiko Bencana

A. Konsep Kajian Risiko Bencana

Pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu kawasan membutuhkan dasar yang kuat dalam pelaksanaannya. Kebutuhan ini terjawab dengan kajian risiko bencana. Kajian risiko bencana merupakan perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran kerugian akibat ancaman yang ada. Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran kerugian, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif. Dapat dikatakan kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah.

Pengkajian risiko bencana merupakan sebuah pendekatan untuk memperlihatkan potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat suatu potensi bencana yang melanda. Potensi dampak negatif yang timbul dihitung berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas kawasan tersebut. Potensi dampak negatif ini dilihat dari potensi jumlah jiwa yang terpapar, kerugian harta benda, dan kerusakan lingkungan.

Kajian risiko bencana dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut :

Risiko = Ancaman x Kerentanan / Kapasitas

Penting untuk dicatat bahwa pendekatan ini tidak dapat disamakan dengan rumus matematika. Pendekatan ini digunakan untuk memperlihatkan hubungan antara ancaman, kerentanan dan kapasitas yang membangun perspektif tingkat risiko bencana suatu kawasan.

Berdasarkan pendekatan tersebut, terlihat bahwa tingkat risiko bencana amat bergantung pada :

  1. Tingkat ancaman kawasan;
  2. Tngkat kerentanan kawasan yang terancam;
  3. Tingkat kapasitas kawasan yang terancam.

Upaya pengkajian risiko bencana pada dasarnya adalah menentukan besaran 3 komponen risiko tersebut dan menyajikannya dalam bentuk spasial maupun non spasial agar mudah dimengerti. Pengkajian risiko bencana digunakan sebagai landasan penyelenggaraan penanggulangan bencana disuatu kawasan. Penyelenggaraan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko bencana.

Upaya pengurangan risiko bencana berupa :

  1. Memperkecil ancaman kawasan;
  2. Mengurangi kerentanan kawasan yang terancam;
  3. Meningkatkan kapasitas kawasan yang terancam.

 

B. Kajian Risiko Bencana Provinsi Maluku

Provinsi Maluku memiliki indeks risiko bencana yang tergolong tinggi dengan 12 (dua belas) jenis ancaman bencana. Kedua belasa jenis ancaman bencana tersebut, yakni : Banjir bandang, banjir, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim dan abrasi, gempabumi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan gunung api Banda, Tanah Longsor, Tsunami, epidemi dan wabah penyakit, dan kegagalan teknologi.

Berdasarkan kedua belas jenis ancaman tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Maluku dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyusun Kajian Risiko Bencana. BNPB melalui tim ahli melakukan Kajian Risiko Bencana untuk wilayah Provinsi Maluku untuk 3 (tiga) aspek, yakni aspek ancaman / bahaya, aspek kerentanan dan aspek kapasitas. Data untuk kajian ketiga aspek tersebut diperoleh dari berbagai sumber, baik data dari BPS, data dari BPBD Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi Maluku, peta kawasan dan peta tematik dari instansi teknis, dan lain sebagainya. dari data tersebut selanjutnya diolah dan dikaji yang menghasilkan 3 (tiga) buah peta berdasarkan jenis ancaman, yakni Peta Bahaya, Peta kerentanan, dan Peta  Risiko.

Kajian dan peta risiko bencana ini diharapkan mampu menjadi dasar yang memadai bagi daerah untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana, sedangkan ditingkat masyarakat hasil pengkajian diharapkan dapat dijadikan dasar yang kuat dalam perencanaan upaya pengurangan risiko bencana.

Download Peta KRB disini…

 

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here