Hari Kesiapsiagaan Bencana

26 April dipilih sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) di Indonesia. Pemilihan tanggal tersebut sesuai dengan tanggal disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-Undang ini dapat dikatakan sebagai legislasi perdana di Indonesia terkait penanggulangan bencana, sekaligus menggambarkan sebuah perubahan paradigma dari responsif ke pengurangan risiko bencana.

Bukan saja di Indonesia yang telah memilih sebuah tanggal untuk memperingati HKB. Di Jepang, peringatan hari pencegahan bencana jatuh pada tanggal 1 September yang ditandai dengan gladi atau simulasi di semua wilayah dalam negara itu.

Cepat atau lambat, kesiapsiagaan bencana harus disadari sebagai kebutuhan utama semua elemen masyarakat. Bencana tidak bisa dilepaspisahkan dari kehidupan kita. Hidup di daerah rawan bencana menuntut kita untuk lebih tanggap dan siap siaga dalam menghadapi ancaman bencana.

Berkaca dari pembelajaran di Jepang melalui hasil survei pada kejadian gempa Great Hanshin Awaji 1995, menunjukkan bahwa presentase korban selamat dalam durasi “golden time” disebabkan oleh (1) Kesiapsiagaan Diri Sendiri sebesar 34.9%, (2) Dukungan anggota keluarga 31,9 %, (3) Teman/Tetangga 28,1%, (4) Orang Lewat 2,60%, (5) Regu Penolong 1,70 %, dan (6) lain-Lain 0,90%. Hal ini menandakan bahwa faktor yang paling menentukan bagi seseorang untuk selamat dari ancaman bencana adalah penguasaan pengetahuan penyelamatan yang dimiliki oleh “diri sendiri”, keluarga dan komunitas di sekitarnya.

Pelaksanaan HKB di Indonesia merupakan wujud sebuah revolusi mental untuk merubah perilaku kita semua menuju budaya aman bencana dengan melakukan edukasi publik melalui gerakan kesiapsiagaan dan meningkatkan kapasitas pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas, keluarga dan individu agar mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan tepat melalui melalui latihan evakuasi bencana (evacuation drill) secara serentak. Hal ini sangat beralasan, karena kondisi masyarakat saat ini:

  1. Kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap karakteristik bencana dan risikonya.
  2. Kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman yang ada di lingkungan sekitarnya.
  3. Belum ada pelatihan secara teratur karena kewaspadaan dan kesiapsiagaan belum menjadi budaya.

HKB sudah seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas, keluarga dan individu untuk mengukur kemampuan masing-masing, seberapa siapkah kita menghadapi ancaman bencana?

Ayo luangkan waktu untuk melatih diri kita. Bencana dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan dapat menimpa siapa saja. Saatnya siap siaga!

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here