Mengenang 8 Oktober 1950

Tanah goyang (Gempabumi) dan air turun naik (Tsunami) pernah terjadi pada hari Minggu, 8 Oktober 1950. Kejadian bencana tersebut melanda Negeri Hutumuri, Negeri Hative Kecil, dan Desa Galala. Kejadian gempabumi dan tsunami ini tertulis jelas dalam Buku “Air Turun Naik di Tiga Negeri” terbitan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)/ Indian Ocean Tsunami Information Center (IOTIC) tahun 2016.

Gambar 1. Posisi episenter gempa Ambon 1950 (sumber: USGS, dalam uku Air Turun Naik di Tiga Negeri, UNESCO/IOC, 2016).

Berdasarkan arsip United States Geological Survey (USGS) diketahui bahwa gempabumi itu terjadi pada pukul 12.23.13 waktu setempat. Tepat di koordinat 4.199°LS 128.233°BT, pada kedalaman 20.0 km (12.4 mi), dengan Momen Magnitude 7.3 (UNESCO/IOC, 2016). Goncangan gempabumi yang terjadi saat itu, diikuti dengan terjangan tsunami.

“Tiba-tiba ada goyangan yang luar biasa, ada tempat air yang ditaruh di meja itu jatuh. Goyangan itu tiga kali, keras. Lalu, beberapa saat kemudian, orang-orang berteriak dari pantai “Air! Air!!” dan lari.  Saya lihat orang lari semua, saya pun ikut lari. Tanpa ada komando dari papa atau mama saya sudah lari. Saya sudah berusia 14 tahun kala itu tapi masih takut. Saya lari sampai di lapangan bola dulu itu, belum ada SMP 3 ketika itu.”

Demikianlah penuturan Alm. Opa Zakarias Joris, ketika menceritakan peristiwa yang terjadi di tanggal 8 Oktober 1950, kepada penulis buku “Air Turun Naik di Tiga Negeri” tahun 2015 silam. Selain Alm. Opa Zakarias Joris, banyak saksi mata yang menceritakan pengalaman mereka.

Akibat terjangan tsunami, banyak rumah yang hancur dan hanyut. Saksi mata di Negeri Hutumuri menyatakan ada satu korban, tidak dapat menyelamatkan diri karena menderita penyakit kusta. Di Desa Galala, disampaikan ada Mama Dana yang tersangkut di pohon Mangga dan Bapak Tyas Joseph yang terjerumus dalam sumur. Namun keduanya dapat diselamatkan (UNESCO/IOC, 2016).

Kala bencana tsunami itu terjadi, banyak orang yang lari ke tempat yang tinggi untuk menyelamatkan diri. Hal ini merupakan salah satu contoh evakuasi yang benar ketika ada ancaman tsunami.

Peristiwa 8 Oktober 1950 hanya satu contoh bencana gempabumi dan tsunami yang terjadi di Maluku. Masih banyak lagi kisah bencana gempabumi dan tsunami yang pernah dialami para leluhur kita.

Berkaca dari kejadian ini, muncul beberapa pertanyaan yang perlu dijawab bersama. Apakah kita sudah mengenali ancaman bencana di sekitar kita? Apakah kita sudah mengenali tempat yang aman di sekitar lingkungan kita? Apakah kita sudah siap siaga jika bencana itu datang?

Bencana serupa bisa saja terjadi lagi di Maluku. Kapan waktunya, tidak ada seorang pun yang tahu.

Refleksi bencana di masa lampau, kiranya dapat menggugah kita semua untuk siap siaga. Mari manggurebe siaga bencana! (FJ)

 

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here